Aplikasi Pelaporan PkM


🌐 Aplikasi Laporan PKM Mahasiswa – Sistem Pelaporan Terintegrasi untuk Mahasiswa, Gereja, dan Pimpinan Sekolah

Aplikasi Laporan PKM Kampus adalah sebuah sistem digital berbasis web yang dirancang khusus untuk mendukung proses Pelayanan Kerohanian Mahasiswa (PKM) di lingkungan Kampus. Aplikasi ini memberikan solusi modern, cepat, akurat, dan terdokumentasi untuk seluruh alur pelaporan mulai dari mahasiswa, pihak gereja, hingga pimpinan sekolah.

Aplikasi dapat diakses melalui:

👉 https://pkm.toruspane.my.id


🎯 Tujuan Pengembangan Aplikasi

Aplikasi ini dibuat untuk:

  • Mempermudah mahasiswa dalam menyusun dan mengirim laporan PKM secara online
  • Mempermudah pimpinan gereja (Gembala/Majelis) memberikan tanda tangan digital
  • Mempercepat proses validasi laporan oleh pimpinan sekolah
  • Menjaga kerapian, keamanan data, dan arsip laporan
  • Menghindari laporan hilang, rusak, atau tidak terdokumentasi
  • Mendukung efisiensi akademik dengan sistem digital yang stabil dan responsif

🧩 Fitur Utama Aplikasi

1️⃣ Role-Based Access (Akses Sesuai Pengguna)

Aplikasi memiliki tiga kategori pengguna:

🧑‍🎓 1. Mahasiswa

Dapat:

  • Mengisi dan mengirim laporan PKM tahunan
  • Mengisi data:
    • Nama
    • NIM
    • Semester
    • Nama Gereja
    • Alamat Gereja
    • Nama Pimpinan Gereja (Gembala/Majelis)
    • Kontak Gembala
    • Periode Pelaksanaan (mulai sampai selesai)
    • Kegiatan Pelayanan (editor teks lengkap Bold/Italic/Underline/Numbering)
    • Pekerjaan Praktis
    • Pelayanan Pribadi
  • Mengunggah 2–4 foto kegiatan (otomatis dikompresi menjadi ukuran kecil & cepat)
  • Menyertakan tanda tangan digital dari Pimpinan Gereja
  • Melihat status laporan (Draft, Menunggu Validasi, Ditolak, Disetujui)
  • Mengekspor laporan ke PDF A4 setelah disetujui

✝️ 2. Pimpinan Gereja (Gembala/Majelis)

Melalui link pengisian dari mahasiswa, pimpinan gereja dapat:

  • Memberikan tanda tangan digital secara langsung
  • Melihat informasi kegiatan mahasiswa
  • Konfirmasi laporan sebelum dikirim ke Pimpinan Sekolah

(Tidak perlu memiliki akun login)


🧑‍💼 3. Pimpinan Sekolah / Ketua III Bid. Pelayanan

Dapat:

  • Melihat seluruh laporan PKM mahasiswa
  • Melakukan validasi laporan:
    • Setujui
    • Tolak
  • Memberikan tanda tangan digital resmi
  • Mencetak laporan ke PDF
  • Melakukan validasi secara massal (bulk approve/deny)
  • Melihat status semua laporan mahasiswa
  • Sistem memastikan laporan lama tidak terpengaruh walaupun tanda tangan berubah

🛠️ 4. Admin

Admin memiliki akses tertinggi dan dapat:

  • Mengatur kop surat, logo kampus, judul aplikasi
  • Mengatur kategori pelayanan untuk mempermudah pengisian mahasiswa
  • Mengelola semua pengguna (edit, reset password)
  • Fitur Reset Password:
    • Mahasiswa → password = NIM
    • Pimpinan/Admin → password = username
  • Cleaner otomatis tanda tangan (TTD) yang tidak digunakan lagi
    • Membersihkan file TTD lama
    • Aman (tidak menghapus TTD yang dipakai laporan valid)

📝 Keunggulan Sistem

🚀 1. Cepat & Ringan di Hosting

  • Foto otomatis dikecilkan
  • PDF kecil (±300–500 KB)
  • Memakai komponen efisien
  • Beban server sangat rendah (hosting kamu 3GB RAM → sangat cukup)

🗂️ 2. Data Terdokumentasi & Aman

  • Laporan lama tidak berubah meskipun tanda tangan baru di-upload
  • Setiap laporan punya file TTD tersendiri (historis)
  • Tidak ada risiko hilang/tertimpa

📱 3. Full Responsive

  • Tampilan rapi untuk laptop, tablet, dan HP

🖋️ 4. Tanda Tangan Digital

  • Pimpinan gereja dan Ketua III bisa tanda tangan langsung dari HP
  • Ukuran kanvas ringkas (200 × 120 px)
  • Tautan aman & tidak mudah hilang

📄 5. Ekspor ke PDF Seperti Surat Resmi

  • Ada kop surat yang bisa disesuaikan
  • Format rapi & profesional
  • Mencakup semua kegiatan mahasiswa
  • Bisa diunduh berkali-kali tanpa beban

🎛️ 6. Pengaturan Lanjutan untuk Admin

  • Ganti logo aplikasi
  • Ganti teks & petunjuk aplikasi
  • Tambah kategori pelayanan
  • Manajemen user
  • Cleaner TTD otomatis

📊 Alur Kerja Aplikasi (Workflow)

1️⃣ Mahasiswa mengisi laporan PKM

2️⃣ Upload foto + tanda tangan pimpinan gereja

3️⃣ Kirim laporan ke Pimpinan Sekolah

4️⃣ Pimpinan Sekolah:

  • Memeriksa laporan
  • Memvalidasi atau menolak
  • Memberikan tanda tangan resmi

5️⃣ Laporan disetujui

6️⃣ Mahasiswa dapat mengekspor PDF untuk kebutuhan akademik / arsip


📚 Manfaat Aplikasi Bagi Kampus

  • Arsip laporan PKM rapi & terorganisir
  • Mengurangi kertas & proses manual
  • Traceability (jejak validasi) jelas
  • Meningkatkan efisiensi dosen & pimpinan
  • Mahasiswa lebih mudah menyusun laporan
  • Mendukung digitalisasi kampus

🌟 Ringkasan Utama

FiturMahasiswaGerejaPimpinan SekolahAdmin
Isi laporan✔️
Upload foto✔️
TTD Gereja✔️✔️
Validasi laporan✔️
Bulk Approve/Deny✔️
TTD Ketua III✔️
Ekspor PDF✔️✔️
Pengaturan aplikasi✔️
Reset password✔️
Cleaner TTD otomatis✔️

🎤 Penutup

Aplikasi Laporan PKM Kampus merupakan langkah nyata menuju digitalisasi administrasi akademik kampus. Dengan fitur lengkap, tampilan modern, serta keamanan dan kecepatan yang terjamin, aplikasi ini memberikan pengalaman terbaik bagi mahasiswa, pimpinan gereja, dan pihak sekolah dalam mengelola laporan PKM secara profesional.


Cahaya yang Tak Pernah Padam

Di sebuah desa terpencil bernama Lembah Arunika, hiduplah seorang remaja bernama Gratio. Ia dikenal pendiam, tetapi memiliki rasa ingin tahu melebihi siapa pun seusianya. Ayahnya bekerja sebagai buruh perkebunan, sementara ibunya membuka warung kecil yang sering sepi pengunjung. Hidup keluarga Gratio tak pernah mudah, tetapi mereka selalu berusaha tersenyum.

Di tengah desa itu, berdiri sebuah lampu jalan tua yang sudah puluhan tahun menerangi jalan kecil menuju ladang. Bagi sebagian besar warga, lampu itu hanyalah benda biasa yang sering berkedip-kedip menunggu waktunya padam. Namun bagi Gratio, lampu itu adalah sahabat yang menemaninya setiap malam saat ia belajar atau sekadar melamun menatap bintang.

“Selama lampu ini masih menyala,” ujar Gratio dalam hati, “aku harus tetap percaya bahwa cita-citaku juga punya cahaya.”

Hari Ketika Cahaya Padam

Suatu malam yang asing dalam ingatan Gratio, angin bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa debu dan dedaunan beterbangan. Ketika ia berjalan pulang dari surau kecil di ujung desa, ia melihat lampu itu berkedip dua kali, lalu padam seketika.

Gelap.

Sunyi.

Hening yang mencengkeram.

Ia berdiri di bawahnya cukup lama, menunggu cahaya itu kembali. Tetapi tiang lampu itu tetap mati, seolah menyerah pada usia dan waktu.

Desa pun tenggelam dalam kegelapan yang membuat setiap langkah terasa lebih dingin. Banyak warga mengeluh, tapi tidak ada yang benar-benar peduli untuk memperbaikinya.

Bagi Gratio, padamnya lampu itu seperti padamnya sesuatu dalam dirinya—sebuah api kecil yang selama ini ia jaga.

Read more: Cahaya yang Tak Pernah Padam

Keinginan yang Terlalu Tinggi

Esoknya, Gratio berkali-kali menatap tiang lampu itu dari jauh. Ia ingin memperbaikinya, tapi ia tahu semua orang akan menertawakan mimpinya. Ia hanya remaja biasa tanpa keahlian apa pun. Bahkan ia belum pernah memegang kabel listrik.

Tapi malam berikutnya, ketika ibunya tertidur dan ayahnya masih di ladang lembur, Gratio duduk sendirian di depan rumah. Angin malam menusuk kulit, tetapi pikirannya jauh lebih ribut daripada udara yang bergerak.

Ia memikirkan masa depannya, mimpinya, dan semua hal yang selalu terasa begitu jauh. Ia memikirkan keluarganya yang bekerja keras tanpa pernah mengeluh. Ia memikirkan desa yang selalu menyerahkan nasib pada kebetulan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bertanya pada dirinya sendiri:

“Jika bukan aku, siapa lagi?”

Pertanyaan itu menyala lebih terang daripada lampu yang padam.

Buku-buku Berdebu & Keberanian Kecil

Keesokan harinya, Gratio pergi ke perpustakaan desa—sebuah ruangan kecil dengan jendela tua yang kaca-kacanya berdebu. Ia membaca buku tentang listrik, arus, kabel, lampu pijar, dan berbagai hal yang sebelumnya asing baginya. Ia mencatat setiap hal kecil meski banyak dari itu tak langsung ia mengerti.

Namun ia punya sesuatu yang lebih penting dari pengetahuan:

keinginan untuk mencoba.

Ia kemudian memberanikan diri meminjam alat dari bengkel Pak Rando—seorang tukang sepeda tua yang suka mengomel tapi sebenarnya memiliki hati lembut.

“Untuk apa alat ini, Gratio?” tanya Pak Rando sambil mengerutkan dahi.

“Untuk mencoba memperbaiki cahaya yang mati, Pak,” jawabnya, lirih namun tegas.

Pak Rando menatapnya lama, lalu hanya berkata:

“Berhati-hatilah. Dan jangan menyerah sebelum mencoba.”

Malam yang Menentukan

Malam itu, ketika sebagian besar warga telah tertidur, Gratio membawa senter kecil milik ayahnya dan memanjat tiang lampu. Angin malam membuat tangannya gemetar, sementara suara jangkrik terdengar seperti iringan ketegangan.

Saat ia membuka panel kecil di tiang lampu, ia menemukan kabel yang terkelupas dan beberapa sambungan longgar. Ia mencoba berbagai cara, tapi beberapa kali ia gagal. Bahkan salah satu baut jatuh ke tanah gelap sehingga ia harus turun untuk mencarinya.

Di tengah rasa frustrasi, muncul bisikan di kepalanya:

“Kamu siapa, sampai berani mengubah sesuatu?”

Namun suara lain muncul, lebih lembut tapi jauh lebih kuat:

“Kalau bukan kamu, siapa lagi?”

Gratio memejamkan mata, mengingat wajah kedua orang tuanya, hari-hari penuh keringat di ladang, dan masa depan yang selalu ia lihat dari kejauhan. Ia menarik napas panjang, lalu mencoba sekali lagi.

Satu putaran…
Satu sambungan…
Satu sentuhan terakhir…

Cahaya Kembali

Tiba-tiba, sebuah kilatan kecil muncul dari sambungan. Gratio refleks menjauh, menahan napas. Dan dalam hitungan detik—

Lampu itu menyala.

Terang.

Hangat.

Seolah-olah membalas semua kerja kerasnya.

Cahaya itu memancar ke seluruh jalan desa, menerangi rumah-rumah kecil yang berjejer seperti barisan mimpi yang selama ini tertidur. Gratio berdiri di bawahnya, dadanya naik-turun sambil menahan rasa haru yang nyaris pecah menjadi tangis.

Ia telah melakukannya.
Ia benar-benar melakukannya.

Cahaya Baru untuk Desa

Keesokan paginya, warga desa gempar. Semua bertanya-tanya siapa yang memperbaiki lampu tua itu. Ketika mereka mengetahui Gratio-lah pelakunya, banyak yang terkejut—bahkan tidak sedikit yang malu karena selama ini hanya mengeluh tanpa berbuat apa-apa.

Kepala desa memanggilnya.

“Gratio,” katanya, “kamu bukan hanya menyalakan lampu itu. Kamu menyalakan harapan di desa ini.”

Sejak saat itu, Gratio menjadi inspirasi banyak orang. Sekolahnya memberinya beasiswa untuk belajar bidang teknik. Beberapa lembaga desa bahkan mengundangnya untuk membantu memperbaiki fasilitas lain. Ia tak lagi menjadi remaja pendiam yang hanya memandang cahaya—kini ia adalah seseorang yang membuat cahaya.

Cahaya dalam Diri

Setiap malam, ketika lampu tua itu menyala, Gratio tidak lagi melihatnya sebagai benda rapuh yang menunggu mati. Baginya, lampu itu adalah cermin dirinya:

Sederhana, mungkin sering melemah, tetapi selalu bisa kembali menyala jika diperjuangkan.

Cahaya itu menjadi simbol bahwa harapan bukanlah sesuatu yang ditemukan—
melainkan sesuatu yang diciptakan.

Selamat datang di ruang cerita dan inspirasi!

Website ini hadir sebagai wadah untuk berbagi kisah, pengalaman, serta berbagai informasi yang dapat membuka wawasan dan memberikan manfaat bagi setiap pembaca. Di sini, setiap cerita memiliki tempatnya—baik itu perjalanan hidup, ide kreatif, pemikiran mendalam, maupun pengetahuan yang bisa memberi nilai tambah bagi siapa saja yang singgah.

Dengan suasana yang hangat dan konten yang beragam, kami berharap setiap pengunjung dapat menemukan sesuatu yang bermakna: entah itu inspirasi baru, sudut pandang berbeda, atau sekadar teman bacaan di waktu luang