Cahaya yang Tak Pernah Padam

Di sebuah desa terpencil bernama Lembah Arunika, hiduplah seorang remaja bernama Gratio. Ia dikenal pendiam, tetapi memiliki rasa ingin tahu melebihi siapa pun seusianya. Ayahnya bekerja sebagai buruh perkebunan, sementara ibunya membuka warung kecil yang sering sepi pengunjung. Hidup keluarga Gratio tak pernah mudah, tetapi mereka selalu berusaha tersenyum.

Di tengah desa itu, berdiri sebuah lampu jalan tua yang sudah puluhan tahun menerangi jalan kecil menuju ladang. Bagi sebagian besar warga, lampu itu hanyalah benda biasa yang sering berkedip-kedip menunggu waktunya padam. Namun bagi Gratio, lampu itu adalah sahabat yang menemaninya setiap malam saat ia belajar atau sekadar melamun menatap bintang.

“Selama lampu ini masih menyala,” ujar Gratio dalam hati, “aku harus tetap percaya bahwa cita-citaku juga punya cahaya.”

Hari Ketika Cahaya Padam

Suatu malam yang asing dalam ingatan Gratio, angin bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa debu dan dedaunan beterbangan. Ketika ia berjalan pulang dari surau kecil di ujung desa, ia melihat lampu itu berkedip dua kali, lalu padam seketika.

Gelap.

Sunyi.

Hening yang mencengkeram.

Ia berdiri di bawahnya cukup lama, menunggu cahaya itu kembali. Tetapi tiang lampu itu tetap mati, seolah menyerah pada usia dan waktu.

Desa pun tenggelam dalam kegelapan yang membuat setiap langkah terasa lebih dingin. Banyak warga mengeluh, tapi tidak ada yang benar-benar peduli untuk memperbaikinya.

Bagi Gratio, padamnya lampu itu seperti padamnya sesuatu dalam dirinya—sebuah api kecil yang selama ini ia jaga.

Read more: Cahaya yang Tak Pernah Padam

Keinginan yang Terlalu Tinggi

Esoknya, Gratio berkali-kali menatap tiang lampu itu dari jauh. Ia ingin memperbaikinya, tapi ia tahu semua orang akan menertawakan mimpinya. Ia hanya remaja biasa tanpa keahlian apa pun. Bahkan ia belum pernah memegang kabel listrik.

Tapi malam berikutnya, ketika ibunya tertidur dan ayahnya masih di ladang lembur, Gratio duduk sendirian di depan rumah. Angin malam menusuk kulit, tetapi pikirannya jauh lebih ribut daripada udara yang bergerak.

Ia memikirkan masa depannya, mimpinya, dan semua hal yang selalu terasa begitu jauh. Ia memikirkan keluarganya yang bekerja keras tanpa pernah mengeluh. Ia memikirkan desa yang selalu menyerahkan nasib pada kebetulan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bertanya pada dirinya sendiri:

“Jika bukan aku, siapa lagi?”

Pertanyaan itu menyala lebih terang daripada lampu yang padam.

Buku-buku Berdebu & Keberanian Kecil

Keesokan harinya, Gratio pergi ke perpustakaan desa—sebuah ruangan kecil dengan jendela tua yang kaca-kacanya berdebu. Ia membaca buku tentang listrik, arus, kabel, lampu pijar, dan berbagai hal yang sebelumnya asing baginya. Ia mencatat setiap hal kecil meski banyak dari itu tak langsung ia mengerti.

Namun ia punya sesuatu yang lebih penting dari pengetahuan:

keinginan untuk mencoba.

Ia kemudian memberanikan diri meminjam alat dari bengkel Pak Rando—seorang tukang sepeda tua yang suka mengomel tapi sebenarnya memiliki hati lembut.

“Untuk apa alat ini, Gratio?” tanya Pak Rando sambil mengerutkan dahi.

“Untuk mencoba memperbaiki cahaya yang mati, Pak,” jawabnya, lirih namun tegas.

Pak Rando menatapnya lama, lalu hanya berkata:

“Berhati-hatilah. Dan jangan menyerah sebelum mencoba.”

Malam yang Menentukan

Malam itu, ketika sebagian besar warga telah tertidur, Gratio membawa senter kecil milik ayahnya dan memanjat tiang lampu. Angin malam membuat tangannya gemetar, sementara suara jangkrik terdengar seperti iringan ketegangan.

Saat ia membuka panel kecil di tiang lampu, ia menemukan kabel yang terkelupas dan beberapa sambungan longgar. Ia mencoba berbagai cara, tapi beberapa kali ia gagal. Bahkan salah satu baut jatuh ke tanah gelap sehingga ia harus turun untuk mencarinya.

Di tengah rasa frustrasi, muncul bisikan di kepalanya:

“Kamu siapa, sampai berani mengubah sesuatu?”

Namun suara lain muncul, lebih lembut tapi jauh lebih kuat:

“Kalau bukan kamu, siapa lagi?”

Gratio memejamkan mata, mengingat wajah kedua orang tuanya, hari-hari penuh keringat di ladang, dan masa depan yang selalu ia lihat dari kejauhan. Ia menarik napas panjang, lalu mencoba sekali lagi.

Satu putaran…
Satu sambungan…
Satu sentuhan terakhir…

Cahaya Kembali

Tiba-tiba, sebuah kilatan kecil muncul dari sambungan. Gratio refleks menjauh, menahan napas. Dan dalam hitungan detik—

Lampu itu menyala.

Terang.

Hangat.

Seolah-olah membalas semua kerja kerasnya.

Cahaya itu memancar ke seluruh jalan desa, menerangi rumah-rumah kecil yang berjejer seperti barisan mimpi yang selama ini tertidur. Gratio berdiri di bawahnya, dadanya naik-turun sambil menahan rasa haru yang nyaris pecah menjadi tangis.

Ia telah melakukannya.
Ia benar-benar melakukannya.

Cahaya Baru untuk Desa

Keesokan paginya, warga desa gempar. Semua bertanya-tanya siapa yang memperbaiki lampu tua itu. Ketika mereka mengetahui Gratio-lah pelakunya, banyak yang terkejut—bahkan tidak sedikit yang malu karena selama ini hanya mengeluh tanpa berbuat apa-apa.

Kepala desa memanggilnya.

“Gratio,” katanya, “kamu bukan hanya menyalakan lampu itu. Kamu menyalakan harapan di desa ini.”

Sejak saat itu, Gratio menjadi inspirasi banyak orang. Sekolahnya memberinya beasiswa untuk belajar bidang teknik. Beberapa lembaga desa bahkan mengundangnya untuk membantu memperbaiki fasilitas lain. Ia tak lagi menjadi remaja pendiam yang hanya memandang cahaya—kini ia adalah seseorang yang membuat cahaya.

Cahaya dalam Diri

Setiap malam, ketika lampu tua itu menyala, Gratio tidak lagi melihatnya sebagai benda rapuh yang menunggu mati. Baginya, lampu itu adalah cermin dirinya:

Sederhana, mungkin sering melemah, tetapi selalu bisa kembali menyala jika diperjuangkan.

Cahaya itu menjadi simbol bahwa harapan bukanlah sesuatu yang ditemukan—
melainkan sesuatu yang diciptakan.